Kisah Para Sahabat Rasulullah – Abdurrahman Bin Auf r.a

Siapakah Abdulrrahman Bin Auf ?

Setelah sepuluh tahun dari kelahiran Nabi Muhammad Saw. Lahirlah seorang putra yang sangat di idam-idamkan ileh Kabilah Zahra. Putra ini diberi nama Abdurrahman bin Auf bin Abdul Harits bin Zahra bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luai Al-Quraisyi. Ibunya, Syifa binti Auf adalah seorang wanita shalehah yang juga berasal dari Kabilah Zahra.

Abdulrrahman bin Auf lahir dan besar dilingkungan yang baik, pemberani, mencintai kebaikan dan penuh kemuliaan akhlak. Ia adalah satu dari delapan orang yang pertama masuk Islam. Dan ia termasuk diantara sepuluh sahabat Nabi yang akan langsung masuk Surga. Oleh sebab itu Amirul Mukminin, Umar bin Khattab, mencalonkan Abdurrahman bin Auf sebagai Khalifah (Pemimpin Islam) selepas ia tiada.

Abdulrrahman bin Auf adalah satu daridelapan sahabat Nabi yang pertama kali masuk Islam. Sebab itu, ia banyak mendapatkan siksaan dari kaum Musyrik di Mekkah akibat keislamannya. Sebagaimana siksaan juga diterima oleh sahabat-sahabat Nabi yang lain, seperti Umar bin Yasir, Sumaiyah, dan Bilal.

Ditengah penyiksaan yang mereka terima, Rasulullah Saw mendapat kabar bahwa dinegeri Habasyah terdapat Raja yang bijaksana dan adil, raja itu bernama Najasi. Lalu Rasulullah memerintahkan kepada kaum muslimin untuk hijrah kesana. Hijrah ini dipimpin oleh Abdurrahman bin Auf. Dan peristiwa ini merupakan hijrah pertama dalam sejarah dakwah Islam.

Setelah beberapa tahun tinggal di Habasyah, kaum muslimin menyangka bahwa keadaan di Mekkah sudah aman. Maka Abdurrahman bin Auf beserta keluarga dan sebagian kaum muslimin yang lainnya memutuskan untuk kembali ke Mekkah. Tetapi ketika sampai, keadaan tidak berubah. Penyiksaan semakin bertambah parah, lalu kaum Muslimin memutuskan untuk hijrah yang kedua, akan tetapi bukan ke Habasyah me;lainkan ke Madinah.

 

Seorang Suri Tauladan

Setelah sampai di Madinah, Rasulullah Saw. mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dengan kaum Anshar. Dalam peristiwa ini, Rasulullah Saw. mengikat tali persaudaraan antara Sa’ab bin Rabi’ al-Anshari dengan Abdurrahman bin Auf.

Sa’ad bin Rabi’ al-Anshari berkata, ” Wahai Abdurrahman! Ambilah separuh dari hartaku, kambing, unta dan sapi ini.” Akan tetapi, Abdurrahman bin Auf menolaknya dengan lembut, “Tidak, wahai saudaraku. Tunjukanlah pasar kepadaku, agar aku bisa berdagang disana.” Hingga pada suatu hari, Abdurrahman bin Auf menjadi saudagar kaya raya di Madinah.

Seorang Pejuang Sejati

Abdurrahman bin Auf adalah seorang pahlawan yang tangguh dan pejuang sejati yang dipercayai oleh Rasulullah Saw. Pada suatu hari, Rasulullah Saw. mengutus Abdurrahman bin Auf untuk bertempur dimedan perang, Daumah Jandal. Pada bulan Sya’ban, tahun ke-6 H. Sebelum pergi berperang, Rasulullah Saw. mengikatkan sorbandikepala Abdurrahman bin Auf sambil berkata, “Sebutlah nama Allah SWT. dan taatlah apa yang telah diperintahkan kepadamu.”

Berkat pertolongan Allah Swt., pertempuran pun dimenangkan oleh pihak Abdurrahman bin Auf. Dan pemimpin tentara musuh, al-Asbakh bin Amru al-Kalbi memeluk Islam. Dan sebelumnya al-Asbakh merupakan seorang penganut agama kristen.

Kabar kemenangan ini pun sampai kepada Rasulullah Saw. lalu Abdurrahman bin Auf disarankan agar menikahi Tamadzar binti al-Asbakh. Ia pun lalu menikahinya dan membawanya pulang ke Madinah.
Seorang Lelaki Mulia lagi Shaleh

Rasulullah Saw. mendengar kabar bahwa raja Romawi sedang mempersiapkan pasukan untuk menyerang dan menghancurkan kaum Muslimin. Rasulullah Saw. pun mempersiapkan segala sesuatunya untuk melawan pasukan Romawi. Akan tetapi, keadaan kaum Muslimin tidaklah baik. Musim kelaparan sedang melanda mereka. Oleh sebab itu, Rasulullah Saw. membuka pundi-pundi amal bagi siapa saja yang hendak memberi sedekah.

Abdurrahman bin Auf dengan Ikhlas menyerahkan beribu-ribu dinar, kambing dan juga sapi kepada Rasulullah Saw. untuk kepentingan dakwah Islam. Kemudian Utsman bin Affan datang kepada Rasulaullah Saw. disusul kemudian Abu Bakar, dan Umar bin Khattab. Seperti itulah para sahabat Nabi, mereka lebih mementingkan dakwah Isalam dan mengesampingkan kepentingan pribadi. Sungguh mereka adalah teladan sejati umat.

Ketika tentara Islam hendak shalt fajar, akan tetapi persediaan air sangatlah terbatas. Sehingga Rasulullah Saw. mencari tempat yang agak jauh untuk buang hajat dan berwudhu. Hal ini membuat Rasulullah terlambat untuk shalat sunah berjamaah. Sementara kaum Muslimin khawatir karena hampir masuk waktu subuh. Akhirnya mereka memilih Abdurrahman bin Auf untuk menjadi imam shalat.

Selepas shalat Rasulullah saw. berkata, “Betapa bangganya seorang Nabi bisa shalat dibelakang laki-laki shaleh dari umatnya.”

Seorang Kepercayaan Penduduk Bumi Dan Langit

Dikisahkan dari Abdullah bin Umar, bahwa Abdurrahman bin Auf bertanya, ” Apakah kalian setuju dan bersedia apabila kau memilih pemimpin satu di antara kalian?”
Ali bin Abi Thalib menjawab, “Aku adalah orang pertama yang akan menyetujuimu, wahai Abdurrahman. Sesungguhnya Rasulullah Saw. bersabda, ‘Kamu adalah orang kepercayaan penduduk langit dan bumi.'” ini merupakan suatu kemuliaan tersendiri bagi Abdurrahman bin Auf.

Seorang Ahli Fikih

Abdurrahman bin Auf adalah sahabat yang paling banyak mendengar hadits dari Rasulullah Saw. Ibnu Abbas mengisahkan, ketika Umar pergi ke Syam, ia mendengar kabar bahwa wabah penyakit telah melanda. Maka berkumpullah para sahabat untuk bermusyawarah. Satu sama lain berpendapat sesuai dengan pendapat dan keyakinannya.

Aburrahman bin Auf berkata,” Aku telah mendengar Rasulullah Saw. bersabda,’Apabila disuatu negeri telah tertimpa musibah, maka kamu janganlah pergi kepadanya. Dan apabila kamu berada didalamnya, maka janganlah kamu pergi atau lari darinya.”

Abdurrahman Bin Auf Wafat

Semasa hidup Abdurrahman bin Auf tidak tergiur oleh kemewahan duniawi. Ia selalu mengingat akan kematian. Dan senantiasa mengajak kaum Muslimin untuk selalu bertaqwa, serta ta’at kepada Allah Swt. Abdurrahman bin Auf wafat tahun 31 H., pada usia 75 tahun. Jenazah Abdurrahman bin Auf dimakamkan di Baqi’, Madinah al-Munawaroh. Abdurrahman bin Auf berkata,”Wahai para pengikut Muhammad Saw. dengarkanlah wasiatku! Setiap orang yang ikut perang Badar, ia berhak mendapat 400 dinar dari harta peninggalanku.” [sumber: guruceritaku.blogspot.com]